Plastik, kata yang sudah sangat dikenal lama oleh masyarakat Indonesia. Secara ilmiah, plastik merupakan istilah umum untuk polimer, material yang terdiri dari rantai panjang karbon dan elemen-elemen lain yang mudah dibuat menjadi berbagai bentuk.

Jika merujuk pada suatu benda, plastik umumnya bersifat lentur dan terlihat. Contohnya saja seperti kresek. Meskipun demikian, ada pula yang keras seperti ember plastik, gelas plastik dan lainnya. Seluruh benda ini tampak jelas sehingga bisa dikategorikan sebagai plastik.

Lalu, bagaimana jika plastik dalam bentuk yang sangat kecil bahkan hampir tidak terlihat oleh mata? Mikroplastik, begitulah kita mengenalnya. Jika diuraikan, mikroplastik dibentuk dari dua kata yakni “mikro” dan “plastik”. Namun, apakah artinya sesederhana itu?

Pengertian Mikroplastik

Mikroplastik
Plastik ditemukan di laut (Gambar: Unsplash @Cristian Palmer)

Seperti yang telah disebutkan di atas, kata penyusun mikroplastik adalah “mikro” dan “plastik”‘. Singkatnya, pengertian mikroplastik merupakan jenis plastik yang berukuran mikro atau kecil. Lalu, sekecil mana yang dikategorikan sebagai mikroplastik?

Dikutip dari laman LIPI (02/2018) lalu, mikroplastik merupakan zat plastik berukuran sangat kecil, bahkan tak lebih dari beberapa mikron, mulai mengancam kesehatan lingkungan serta biota laut di perairan Indonesia.

Jika menggunakan referensi dari Wikipedia Indonesia, mikroplastik didefinisikan memiliki diameter yang kurang dari 5 mm. Semua pengertian di atas sah-sah saja mengingat belum ada ketetapan resmi mengenai ukuran miroplastik.

Namun secara singkat, mikroplastik umumnya kasat di mata ataupun ukurannya sangat kecil. Contohnya saja adalah microbeads yang ada dalam barang kosmetik dan scrub yang terdapat pada sabun pencuci muka.

Jenis Mikroplastik Berdasarkan Sumber

Mencuci Masker Kain
Ilustrasi mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari

Dilansir dari Kompas.com (03/2018) lalu, ahli oseanografi LIPI, Muhammad Reza Cordova, menyebutkan bahwa mikroplastik dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan sumbernya. Mulai dari kelompok primer hingga sekunder.

Untuk kelompok primer merupakan jenis mikroplastik yang memang dibuat dalam ukuran kecil. Seperti yang disebutkan di atas, contohnya saja microbeads dan scrub yang ada dalam produk kosmetik. Semua jenis mikroplastik ini memang dibuat dengan ukuran kecil.

Baca : Sejarah Penemuan Plastik : Dulu Dipuja, Kini Dibatasi

Berbeda dengan kelompok sekunder, jenis mikroplastik ini merupakan plastik yang ukurannya mengecil karena faktor alami seperti gelombang laut, panas ultraviolet, dan bakteri. Contohnya, tas kresek di laut yang ukurannya mengecil karena pengaruh alam.

Dilansir dari VOA Indonesia (08/2019) lalu, WHO Indonesia mengatakan bahwa air minum kemasan juga mengandung mikroplastik. Akan tetapi, pihaknya menyebutkan bahwa mikroplastik dalam air minum belum membahayakan manusia.

Selain resikonya sangat rendah, data hasil analisis keberadaan mikroplastik dalam air minum juga sangat sedikit. Sebagai langkah pencegahan, pakar dari WHO Indonesia merekomendasikan pengolahan air limbah dengan sistem penyaringgan untuk menghilangkan setidaknya 90% kandungan mikroplastik.

Bahaya Mikroplastik

Mikroplastik
Penyu memakan plastik (Gambar: Reuters)

Setela penjelasan di atas, apakah mikroplastik memiliki tingkat bahaya yang mengerikan? Sampai saat ini, studi mikroplastik yang dapat diuji hasil analisisnya masih sedikit. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa mikroplastik dapat ditemukan dalam aktivitas keseharian masyarakat.

Bahkan, mikroplastik sendiri mungkin sudah sering kita konsumsi. Akan tetapi, penjelasan WHO Indonesia mengatakan bahwa risikonya masih sangat rendah.

Akan tetapi, kita tetap perlu waspada mengingat mikroplastik yang ukurannya sangat kecil mudah terkonsumsi biota laut. Contohnya saja adalah penyu yang ketika melihat plastik di laut, terlihat bentuknya seperti ubur-ubur sehingga langsung dikonsumsi.

Ketika dimakan biota, maka plastik akan merusak dan merobek bagian dalam saluran pencernaan (hewan). Jika yang dikonsumsi berukuran mikro, maka akan terjadi akumulasi di dalam sistem pencernaan biota sehingga menghambat proses pencernaan.

Biota yang mengandung mikroplastik ini kemudian dikonsumsi oleh manusia dan menyebabkan akumulasi di tubuh. Dalam riset oleh ahli oseanografi LIPI, Muhammad Reza Cordova, ditemukan bahwa hewan yang mengkonsumsi mikroplastik mengalami tumor pada bagian saluran pencernaan.

Dilansir dari laman CNN Indonesia (04/2019) lalu, Departemen Perikanan dan Akuakultur FAO menyebutkan beberapa bahaya mikroplasik terhadap kesehatan, seperti (1) diduga mengganggu sistem endokrin (sistem hormonal dalam tubuh); (2) bahan makanan seperti ikan menjadi lebih berbahaya; (3) diduga mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Jumlah Mikroplastik di Indonesia

Data mikroplastik di dunia (Gambar: Kumparan)

Lalu, apakah jumlah mikroplastik di Indonesia termasuk kategori membahayakan? Ternyata, riset yang dilakukan Reza menunjukkan bahwa mikroplastik di Indonesia lebih sedikit dibandingkan China dan Amerika.

Hal ini tentu terbalik mengingat Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang plastik terbanyak di dunia. Riset yang dilakukan oleh Reza, diperikirakan ada sekitar 30 sampai 960 partikel mikroplastik per liter air. Sementara di China ditemukan ada sekitar 17 ribu partikel zat tersebut dalam tiap satu liter air.

Meskipun sedikit, Reza menyebutkan bahwa dirinya akan tetap melakukan riset jangka panjang untuk mendalami bahaya mikroplastik tersebut.


Referensi
CNN Indonesia : Bahaya Mikroplastik untuk Kesehatan Manusia
Kumparan : Mikroplastik, Ancaman Tersembunyi bagi Tubuh dan Lingkungan
VOA Indonesia : WHO: Mikroplastik pada Air Minum Belum Jadi Masalah Kesehatan
Kompas.com : Disebut Ada di Dalam Air Kemasan, Apa Itu Mikroplastik?
Situs LIPI : Mikroplastik, Ancaman Tersembunyi bagi Tubuh dan Lingkungan xyx
Wikipedia Indonesia : Mikroplastik